Archive for September, 2006

title means little

Tuesday, September 26th, 2006

my health’s getting worse lately. i dunno why but it’s might caused by the adaptation term of my body facing this early ramadhan. anyway, my mum went umrah this morning. how i wish i could accompany her along that magical journey. those midterm exams screw everything!! aarrrggghh…

i’m listening "rod stewart - i dont wanna talk about it" by now. i’ve been singing that song for days after the brain failure i had along this month (probably 27 days, haha, y’kno wh i mean). actually, i’m starring at that’s person shadow  along with the lyric i’m singing out  loud for the ol’ time sake, remembering how i was destructed and defeated by my own feeling. but that was then, now? my butt is heating up and off it go leaving you another dust to bite!! hoho, kasar..

so days after i still couldnt let go. until the day before puasa came, i suddenly realize there was something to remember about that day. it was kinda odd for me, two forgetful friends (or foo?) without a reminder. i sent a simple message without expecting any reply–i lied (and yes, there was none of reply–since i always  got nothing from that person, the other replied so so). i knew what i did that night was wrong. first, remembering that day. second, sending an sms was worse. but two wrong dont make a right. just a simple confessions to myself that the little H is still there.. (H for hope)

all i need is a mind erasing program, just like jhony mnemonic had. i just want to restart and rearrange my time–to the time where there was before you..

3C [cellphone chit chat]

Saturday, September 16th, 2006

Bom meledak lagi di Bali. Perempuan ini - Meita Revina Atrial - masuk ke kamar, sementara di luar sedang ada gempita pesta. Ia duduk menekur dan memikirkan tentang apa yang baru saja terjadi. Sedang apa dunia? Dua tempat sekaligus seperti 2002 silam, dengan korban yang juga banyak. Satu jam kemudian dia keluar, menemui teman-temannya yang kebingungan. Malam itu, di sebuah vila di Canggu, sebenarnya ia sedang merayakan pesta ulang taun ke 19nya yang tertunda.

"Aku sedih banget loh, Dei. Aku gak nonton TV, nanti jadi ikut sedih." Ia setuju dengan perdamaian dunia. Ia tak suka politik yang membuat kacau. Dan ia tak pula suka teroris. Mei - saya sapa begitu - melihat banyak orang bersedih karena peristiwa itu.

Suka berdoa? "Kalau lagi sedih aja." Ia tertawa, sepertinya menertawakan jawabannya sendiri. "Harusnya kan ga gitu ya, Dei?"

Doa paling sering? " Kebahagiaan orang-orang terdekat."

Ga ngundang2 ya ngadain pesta ultah di Bali? "Kan waktu itu kita belom kenal Dei! Lagian kalo uda kenal juga, kasian kan kalo harus ke sini cuma karna itu.." Ko di Bali? "The nice thing about living in Bali is you really forget who you are. Aku bisa santai, looking very bohemian, very chic, or dekil banget juga bisa ha..ha..ha.. depends on my mood."

"Di sana juga kita bakal ketemu banyak orang yang ga mungkin ditemuin di Bandung ato Jakarta. Misalnya tahu-tahu saya bisa ngobrol sama fotografer terkenal dari Miami ato Venice, atau kenalan ama orang yang ternyata pemilik klub apa di negara apa. Jadi kita banyak kenalan baru deh."

Ia di Bali hanya seminggu untuk berkunjung. Temannya di sana ada beberapa yang dikenal semasa SMP dan SMA. 2002 ia pindah dari Bandung. "Gila, Bandung jelek banget dibandingin Bali" Selang setaun, pindah lagi ke Stockholm, Swedia. "Bali jelek banget dibandingin Stockholm" Sekarang kuliah lagi di Bandung.

"Life is easier in Bandung. At least, aku tahu orang-orang bicara apa ha..ha..ha… Living cost is cheaper than in Sweden."

Mengapa Bandung, bukan Jakarta? "Indah, tenteram, ga sebising Jakarta. Dan di sini ada teman-temanku walau tak banyak." Dari nada bicaranya ia terdengar seperti sedang menikmati hidupnya. Perbincangan lewat telepon ini mengalir ke sana kemari. Ia berbicara dengan suara terengah-engah seperti sambil berlari-lari keci. Sesekali terdenar suara air.

"Aku sedang di pinggir kolam. Tadi itu suara kaki yang kumainkan di air. Gapapa kan?"

Di sebuah rumah mewah di Setrasari, Mei tinggal sendiri. Kalau siang ada dua pembantu, tapi saat malam datang yang ada cuma dirinya sendiri.

Ga Takut? "Engga. Memang aku sering dari teman-temanku, mereka lihat apalah itu. Tapi aku belum pernah. Aku percaya tentang hal-hal seperti itu, walau belum mengalaminya sendiri." Baginya, persoalan aneh seperti itu bukan hal baru. Ia ada darah keturunan Banjarmasin. Seperti juga daerah lain di Indonesia, hal-hal di luar akal manusia acapkali terjadi.

"I believe there’s someting out there."

Ini pernyataanya tanpa penjelasan lebih lanjut. Ia sepertinya suka berbicara dengan lancar, mengemukakan gagasan-gagasan, dan meloncat-loncat. Ia selalu berkata dengan ringan, sepertinya tidak ada yang membuatnya gentar. Tidak cuma soal mistis tadi, ia memberlakukannya pada semua topik pembicaraan.

"Aku gak takut, paling sebel aja sih sama kodok."

Apa coba hubungannya antara takut dan sebel sama kodok? "Aku takut sama diri sendiri."

Ia mengaku suka di luar kendali saat memutuskan sesuatu. "Aku kalau memutuskan sesuatu yang belum dipikir dulu. aku suka menabrak-nabrak."

Lalu Ia bicara panjang lebar tentang kuliahnya yang lokasinya dekat dengan kampus saya. Tapi entah mengapa kami memang sangat jarang bertemu. Seringnya ya bicara lewat telepon ini. "Dei kangen banget becanda-becanda lagi! Mana semester depan mo cuti lagi, disuruh mama pulang ke Swedia. Ikut yuk!" Ajakannya jelas setengah basa-basi dan memang sesuatu yang mustahil buat saya.

Trus kuliahnya? "Penting sih, tapi waktu kuliah juga ga pernah kuliah. Kuliah itu untuk mencari teman dan koneksi. Ilmu sebenarnya bukan dari kuliah doang. Kaenya aku mo cari kampus di tempat lain. Another country may be."

Kembali ke masalah terburu-buru mengambil keputusan, adakah hubungannya dengan putusnya baru-baru ini? "Kenal dua bulan terus pacaran, lama-lama kenal, ternyata kami memang berbeda."

"Aku ternyata belum siap. Buru-buru. Kita baik-baik pisahnya. Aku mau apa, dia mau apa."

Seperti juga topik lain, jawaban tentang hal ini pun ringan saja. Tadinya saya kira permasalahan seperti ini akan dimulai dengan tarikan nafas panjang, jeda pembicaraan yang lebar, dan pemilihan kata yang lama. Namun jawabannya lancar walau sepertinya ia menurunkan ritmenya. Mungkin ia berhenti berjalan, mungkin juga masih duduk di pinggir kolam.

Balik lagi ke kuliah, memangnya mo kuliah dimana rencananya? "Tahun depan berarti kuliahnya di Eropa aja. Pengen nyoba aja, walau ga ngerti bahasanya. Culture kuliahnya juga menarik kaenya."

Andai bosan kuliah di Eropa? "Aku mo ke New York. Kota impian aku tuh, Dei."

Mengapa Eropa dulu baru New York? Mengapa tidak langsung New York? "Katanya kalo uda berhasil atau paling engga nyoba di Eropa, New York lebih gampang."

Saya lupa menanyakan, apakah setelah dari New York akan kembali ke Indonesia. Namun itupun juga bukan pertanyaan yang tepat dicari jawabannya sekarang mengingat cara dia memutuskan sesuatu.

..sluuurrrrpppp….

Saturday, September 16th, 2006

minggu siang ini harusnya gw ngerjain proposal TA gitu, tapi entah kenapa gada satu paragraf pun bisa gw tulis padahal dah nongkrong di depan PC for about an hour! huuu, malasnya akuh! denger desas desus sih, proposalnya harus dikumpul besok gitu.. tapi i have nothing to write on!!

jadi keingat my last conversation with my old friend on the cellphone last night.. long time no chat qt.. cuma berbalas testi di FS doank.. memori gw masih sedikit merecord our talk.. nulis post ttg itu aja ah…

maaf ya, klo menampilkan nama sebenarnya..
:p